Skip to content
  • Selasa, 28 Juli 2026
  • 20:15
  • Follow Us

  • Home
  • Contact
  • Home
  • Home
  • Recruitment
  • Redaksi
  • Home
  • Hardjuno: Transparansi DPR Tak Akan Jalan Tanpa Perbaikan Partai Politik
Pos-pos Terbaru
  • Frengky Saragi Nahkodai GNB Banten, Siap Wujudkan Generasi Emas 2045 23/07/2026
  • Hari Anak Nasional 2026, Rutan Kelas I Tangerang Perkuat Pembinaan Anak Binaan 21/07/2026
  • Rutan Kelas I Tangerang Perkuat Pembinaan Spiritual Warga Binaan Buddha Bersama Kementerian Agama 18/07/2026
  • Pembinaan Humanis, Rutan Kelas I Tangerang Tanamkan Nilai Keagamaan bagi Warga Binaan 17/07/2026
  • Rutan Tangerang Usulkan 8 Warga Binaan Dapat Pembebasan dan Cuti Bersyarat 17/07/2026
Nasional

Hardjuno: Transparansi DPR Tak Akan Jalan Tanpa Perbaikan Partai Politik

Pimpinan Redaksi Sep 7, 2025 0

Aspirasiindonesianews.com, JAKARTA (07/09) — Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI merespons Tuntutan 17+8 dengan enam poin keputusan yang disepakati fraksi-fraksi partai politik. Salah satu poin yang paling ditekankan adalah komitmen untuk memperkuat transparansi dan partisipasi publik dalam proses legislasi serta kebijakan lainnya.

 

Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho, menilai komitmen tersebut akan menjadi slogan kosong jika tidak dibarengi dengan pembenahan mendasar di tubuh partai politik. Menurutnya, inti dari keberadaan DPR adalah keterbukaan dan pelibatan rakyat dalam setiap kebijakan. Namun dalam praktiknya, DPR selama ini justru lebih sering bekerja untuk kepentingan internalnya sendiri ketimbang benar-benar mendengarkan suara masyarakat.

 

“Partisipasi publik bukan hanya soal menghadirkan uji dengar pendapat yang sifatnya seremonial. Ia harus bermakna, artinya pandangan masyarakat benar-benar memengaruhi arah kebijakan. Kalau hanya janji tanpa perubahan nyata, rakyat tidak akan percaya lagi,” tegas Hardjuno, Minggu (7/9).

 

Ia menilai akar persoalan terletak pada partai politik sebagai pintu masuk parlemen. Rekrutmen politik selama ini cenderung ditentukan oleh kedekatan dengan elite dan praktik mahar, sehingga hasilnya adalah parlemen yang jauh dari rakyat. Transparansi dan partisipasi tidak akan pernah berjalan jika partai tetap dikuasai oleh segelintir orang yang menjadikan politik sekadar ruang dagang sapi.

 

“Akhirnya DPR didominasi elit keluarga pimpinan partai, pengusaha, dan artis dengan money politic sebagai kerja utama politik mereka. Joget-joget lah di DPR di saat rakyat menderita karena sukses ngibuli rakyat. Jarak kenyataan sehari-hari mereka dengan kenyataan rakyat seperti jarak Bumi dan Pluto,” tandas Hardjuno.

 

Hardjuno juga menyinggung praktik jual beli ketok palu anggaran di Badan Anggaran (Banggar) DPR yang selama ini menjadi rahasia umum. Ia menyebut praktik yang dikenal dengan istilah “gentong babi” itu sebagai kebocoran di hulu yang merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun.

 

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa partai politik dan DPR bukan hanya gagal transparan, tetapi juga terjebak dalam lingkaran transaksional yang merusak kepercayaan publik.

 

“Kalau ketok anggaran saja harus pakai hitung-hitungan setoran, bagaimana mungkin DPR bisa bicara transparansi? Semua proses legislasi dan penganggaran akhirnya menjadi komoditas politik yang hanya menguntungkan segelintir orang. Rakyat jelas jadi korban karena uang yang seharusnya untuk kesejahteraan publik justru bocor di meja politik,” kata Hardjuno.

 

Menurut Hardjuno, Indonesia perlu belajar dari pengalaman negara lain yang berhasil mendewasakan partainya. Di Jerman, misalnya, partai diwajibkan mempublikasikan laporan keuangan setiap tahun secara rinci agar masyarakat tahu siapa saja penyandang dana dan bagaimana uang partai digunakan. Di Korea Selatan, reformasi partai dilakukan melalui sekolah partai yang mencetak kader-kader muda dengan basis meritokrasi, sehingga proses kaderisasi tidak bergantung pada nama besar keluarga atau patron politik. Di Amerika Serikat, sistem pemilihan pendahuluan atau primaries memberi kesempatan kepada pemilih untuk menentukan siapa yang layak maju sebagai calon legislatif, bukan semata-mata ditentukan oleh ketua partai.

 

Praktik-praktik tersebut, lanjut Hardjuno, menunjukkan bahwa partai politik seharusnya berfungsi sebagai institusi pendidikan politik rakyat, bukan hanya kendaraan kekuasaan elite. “Kalau DPR serius ingin memperkuat transparansi, maka partai harus dibenahi dari hulu. Rekrutmen harus terbuka, kaderisasi harus sehat, dan keuangan partai harus akuntabel. Tanpa itu, semua yang dijanjikan hanya akan dipandang rakyat sebagai jargon belaka,” ujarnya.

 

Bagi Hardjuno, momen jawaban DPR atas Tuntutan 17+8 seharusnya menjadi titik balik. Tekanan publik yang begitu kuat seharusnya direspons bukan dengan retorika, melainkan dengan langkah konkret yang benar-benar mengembalikan DPR pada fungsinya: menjadi representasi rakyat, bukan representasi elite.

Hardjuno: Transparansi DPR Tak Akan Jalan Tanpa Perbaikan Partai Politik

JAKARTA (07/09) — Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI merespons Tuntutan 17+8 dengan enam poin keputusan yang disepakati fraksi-fraksi partai politik. Salah satu poin yang paling ditekankan adalah komitmen untuk memperkuat transparansi dan partisipasi publik dalam proses legislasi serta kebijakan lainnya.

Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho, menilai komitmen tersebut akan menjadi slogan kosong jika tidak dibarengi dengan pembenahan mendasar di tubuh partai politik. Menurutnya, inti dari keberadaan DPR adalah keterbukaan dan pelibatan rakyat dalam setiap kebijakan. Namun dalam praktiknya, DPR selama ini justru lebih sering bekerja untuk kepentingan internalnya sendiri ketimbang benar-benar mendengarkan suara masyarakat.

“Partisipasi publik bukan hanya soal menghadirkan uji dengar pendapat yang sifatnya seremonial. Ia harus bermakna, artinya pandangan masyarakat benar-benar memengaruhi arah kebijakan. Kalau hanya janji tanpa perubahan nyata, rakyat tidak akan percaya lagi,” tegas Hardjuno, Minggu (7/9).

Ia menilai akar persoalan terletak pada partai politik sebagai pintu masuk parlemen. Rekrutmen politik selama ini cenderung ditentukan oleh kedekatan dengan elite dan praktik mahar, sehingga hasilnya adalah parlemen yang jauh dari rakyat. Transparansi dan partisipasi tidak akan pernah berjalan jika partai tetap dikuasai oleh segelintir orang yang menjadikan politik sekadar ruang dagang sapi.

“Akhirnya DPR didominasi elit keluarga pimpinan partai, pengusaha, dan artis dengan money politic sebagai kerja utama politik mereka. Joget-joget lah di DPR di saat rakyat menderita karena sukses ngibuli rakyat. Jarak kenyataan sehari-hari mereka dengan kenyataan rakyat seperti jarak Bumi dan Pluto,” tandas Hardjuno.

Hardjuno juga menyinggung praktik jual beli ketok palu anggaran di Badan Anggaran (Banggar) DPR yang selama ini menjadi rahasia umum. Ia menyebut praktik yang dikenal dengan istilah “gentong babi” itu sebagai kebocoran di hulu yang merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun.

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa partai politik dan DPR bukan hanya gagal transparan, tetapi juga terjebak dalam lingkaran transaksional yang merusak kepercayaan publik.

“Kalau ketok anggaran saja harus pakai hitung-hitungan setoran, bagaimana mungkin DPR bisa bicara transparansi? Semua proses legislasi dan penganggaran akhirnya menjadi komoditas politik yang hanya menguntungkan segelintir orang. Rakyat jelas jadi korban karena uang yang seharusnya untuk kesejahteraan publik justru bocor di meja politik,” kata Hardjuno.

Menurut Hardjuno, Indonesia perlu belajar dari pengalaman negara lain yang berhasil mendewasakan partainya. Di Jerman, misalnya, partai diwajibkan mempublikasikan laporan keuangan setiap tahun secara rinci agar masyarakat tahu siapa saja penyandang dana dan bagaimana uang partai digunakan. Di Korea Selatan, reformasi partai dilakukan melalui sekolah partai yang mencetak kader-kader muda dengan basis meritokrasi, sehingga proses kaderisasi tidak bergantung pada nama besar keluarga atau patron politik. Di Amerika Serikat, sistem pemilihan pendahuluan atau primaries memberi kesempatan kepada pemilih untuk menentukan siapa yang layak maju sebagai calon legislatif, bukan semata-mata ditentukan oleh ketua partai.

Praktik-praktik tersebut, lanjut Hardjuno, menunjukkan bahwa partai politik seharusnya berfungsi sebagai institusi pendidikan politik rakyat, bukan hanya kendaraan kekuasaan elite. “Kalau DPR serius ingin memperkuat transparansi, maka partai harus dibenahi dari hulu. Rekrutmen harus terbuka, kaderisasi harus sehat, dan keuangan partai harus akuntabel. Tanpa itu, semua yang dijanjikan hanya akan dipandang rakyat sebagai jargon belaka,” ujarnya.

Bagi Hardjuno, momen jawaban DPR atas Tuntutan 17+8 seharusnya menjadi titik balik. Tekanan publik yang begitu kuat seharusnya direspons bukan dengan retorika, melainkan dengan langkah konkret yang benar-benar mengembalikan DPR pada fungsinya: menjadi representasi rakyat, bukan representasi elite. Redaksi

Post Views: 110
Pimpinan Redaksi

Website: https://aspirasiindonesianews.com

Related Story
Jakarta Nasional
Rumah Sehat Family Massage Resmi Buka Cabang Ketiga di Pondok Indah, Hadirkan Layanan Premium Berstandar Profesional
Pimpinan Redaksi Jul 5, 2026
Nasional
Muchlis M Hanafi, Wakil Indonesia dalam Forum Internasional Pentashihan Mushaf di Irak
Pimpinan Redaksi Feb 4, 2026
Nasional
Stop Kerusakan Lingkungan, Polda Gorontalo Siap Tertibkan PETI di Seluruh Wilayah
Pimpinan Redaksi Jan 13, 2026
Nasional
CBA Kritik Anggaran Rp330 Juta untuk Cetak Foto Kepala Daerah Kota Tangerang: Mubazir dan Tak Pro-Rakyat
Pimpinan Redaksi Nov 13, 2025
Nasional
Hadiri Hari Santri 2025 di Tegal, Ini Pesan Wamendes Ariza
Pimpinan Redaksi Nov 6, 2025
Nasional
Dihadiri 2.000 Desa, Mendes Deklarasi Desa Bersinar
Pimpinan Redaksi Nov 3, 2025
Nasional
Ketua Koni Morotai Hadiri Penyerahan Hadiah Dan Penutupan Pemuda Cup 1 Desa Gamlamo Mortim
Pimpinan Redaksi Nov 3, 2025
Nasional
Pemda Optimis Proyek Labkesmas Selesai Tepat Waktu
Pimpinan Redaksi Nov 3, 2025
Nasional
Proyek pekerjaan Pembagunan jembatan sangowo Akses jalan terputus warga desak bagun jalan alternatif
Pimpinan Redaksi Nov 2, 2025
Nasional
Kades yayasan Morsel Hadiri Panen Raya Holtikultura Dan Wujudkan Program Ketapang Di Morotai
Pimpinan Redaksi Okt 31, 2025
YOU MAY HAVE MISSED
Ceremaial Kota Tangerang Penerimaan SK
Frengky Saragi Nahkodai GNB Banten, Siap Wujudkan Generasi Emas 2045
Pimpinan Redaksi Jul 23, 2026
Berita Utama
Hari Anak Nasional 2026, Rutan Kelas I Tangerang Perkuat Pembinaan Anak Binaan
Pimpinan Redaksi Jul 21, 2026
Berita Rutan 1 Tangerang Kabupaten Tangerang
Rutan Kelas I Tangerang Perkuat Pembinaan Spiritual Warga Binaan Buddha Bersama Kementerian Agama
Pimpinan Redaksi Jul 18, 2026
Berita Rutan 1 Tangerang Kabupaten Tangerang
Pembinaan Humanis, Rutan Kelas I Tangerang Tanamkan Nilai Keagamaan bagi Warga Binaan
Pimpinan Redaksi Jul 17, 2026

Pos Terbaru

  • Frengky Saragi Nahkodai GNB Banten, Siap Wujudkan Generasi Emas 2045
  • Hari Anak Nasional 2026, Rutan Kelas I Tangerang Perkuat Pembinaan Anak Binaan
  • Rutan Kelas I Tangerang Perkuat Pembinaan Spiritual Warga Binaan Buddha Bersama Kementerian Agama
  • Pembinaan Humanis, Rutan Kelas I Tangerang Tanamkan Nilai Keagamaan bagi Warga Binaan
  • Rutan Tangerang Usulkan 8 Warga Binaan Dapat Pembebasan dan Cuti Bersyarat

Copyright © 2026 | PT. Rasyah Andreas Mutiara Audrey (RAMA) | NewsExo by ThemeArile